Archive | April 2014

Pemberian Vitamin A pada Balita Di Desa Madika Kec. Simpang Tiga Kab. Pidie

 

Pemberian Vitamin A Pada Balita di Desa Madika Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Pidie tahun 2013.

(Indra Maulana/Mirzal Tawi)*

 xv + 49 Halaman + 9 Tabel + 2 Gambar + 7 Lampiran

 

ABSTRAK

 

Vitamin A merupakan vitamin yang larut dalam lemak yang pertama ditemukan. Secara luas, vitamin A merupakan nama genetic yang menyatakan semua retinoid dan prekusor/provitamin A/karotenoid yang mempunyai aktifitas biologic sebagai retinol. Di Kecamatan Simpang dari 1900 balita yang mendapatkan vitamin A sebanyak 1614 balita sedangkan yang tidak mendapatkan vitamin A sebanyak 286 balita, dan diantaranya 23 orang di Desa Madika. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada balita di Desa Madika Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Pidie Tahun 2013 berdasarkan umur, pendidikan dan pengetahuan. Penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai balita di Desa Madika Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Pidie sebanyak 43 orang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 13-16 September 2013 didapatkan hasil bahwa dari 43 responden ini didapatkan bahwa manyoritas responden yang ada memberikan vitamin A kepada balita yaitu 53,5%. Hasil penelitian Bivariat didapatkan bahwa adanya 1 variabel yang tidak berhubungan yaitu pengetahuan. Sedangkan variabel yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada balita yaitu umur (P value = 0,019) dan pendidikan (P value = 0,009). Diharapkan kepada ibu-ibu yang mempunyai balita supaya dapat meningkatkan pengetahuan tentang pemberian vitamin A pada balita, agar kesehatan balita dapat terjaga dengan baik, sehingga derajat kesehatan pada balita tercapai sesuai dengan harapan.

 

Kata Kunci        : Vitamin A + Umur + Pendidikan + Pengetahuan

Daftar Pustaka  : 14 buku (2000 – 2013) + 6 Jurnal + 8 Internet/online

(Mahasiswa Akper Jege Sigli/Pembimbing)

 

Advertisements

Perilaku Cuci Tangan Efektif Pada Masyarakat Di Desa Jeumpa Kec. Sakti Kab. Pidie tahun 2013


Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Cuci Tangan Efektif Pada Masyarakat 
Di Desa Jeumpa Kecamatan Sakti Kabupaten Pidie  Tahun 2013.

(Aina/Mirzal Tawi)*

 

Xv + 75 halaman + 13 Tabel + 3 Gambar + 8 Lampiran

 

ABSTRAK

Perilaku mencuci tangan adalah masalah sepele. Begitu sepelenya hingga banyak orang mengabaikannya. Perilaku cuci tangan pakai sabun juga merupakan intervensi kesehatan yang paling murah dan efektif dibandingkan dengan hasil intervensi kesehatan dengan cara lainnya dalam mengurangi resiko  penularan  berbagai penyakit termasuk Flu burung, cacingan dan diare terutama pada bayi, balita dan anak-anak. Adapun tujuan penelitian ini adalah diketahuinya faktor-faktor  yang berhubungan dengan perilaku cuci tangan  efektif pada masyarakat  Di Desa Jeumpa Kecamatan Sakti  Kabupaten Pidie tahun 2013 berdasarkan faktor pengetahuan, pendidikan, umur dan sumber informasi. Penelitian ini bersifat analitik dengan rancangan crossectional. Tehnik pengambilan sampel tehnik simple random sampling ,yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah masyarakat Desa Jeumpa Kecamatan Sakti Kabupaten Pidie sebanyak 91orang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tanggal 3 s/d 9 Agustus 2013 didapatkan perilaku cuci tangan efektif masyarakat mayoritas adalah baik (52,7%), Hasil analisis bivariat didapatkan ada hubungan  antara variabel prilaku cuci tangan efektif dengan variabel pengetahuan (P = 0,000), pendidikan (P = 0,013), umur (P = 0,004), dan sumber informasi (p = 0,048).  Diharapkan kepada Puskesmas dan Dinas Kesehatan, untuk mengevaluasi masalah cuci tangan efektif dalam  masyarakat serta membina masyarakat dan memberikan penyuluhan tentang cuci tangan efektif serta prilaku hidup bersih dan sehat.

 

Kata Kunci       :    Perilaku cuci tangan,  pengetahuan , pendidikan, umur, sumber   informasi

Daftar Pustaka:    38 (2001-2011),  8 jurnal, 3 online.

Keaktifan Kader Posyandu Di Wilayah Kerja Puskesmas Peukan Baro Kab. Pidie


“Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Keaktifan Kader Dalam Kegiatan Posyandu

Di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Peukan Baro Kabupaten Pidie Tahun 2013”

(Sri Wahyuni/Mirzal Tawi)*

xii + 67 Halaman + 10 Tabel + 2 Gambar + 11 Lampiran

 

ABSTRAK

 

Keaktifan  kader posyandu merupakan suatu prilaku atau tindakan nyata yang biasa dilihat dari keteraturan dan keterlibatan seorang kader dalam berbagai kegiatan posyandu baik kegiatan dalam posyandu maupun diluar posyandu. Di Aceh jumlah kader posyandu yang terlatih 4.500 dari 7.039 posyandu dan rasio kader terlatih terhadap desa siaga 64,29%. Berdasarkan data dari Puskesmas Peukan Baro jumlah kader yang aktif 156 orang.

Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan desain crossectional. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan keaktifan kader posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Peukan Baro Kabupaten Pidie berdasarkan umur, pendidikan, lama menjadi kader dan pengetahuan. Jumlah populasi 340 dan sampel penelitian adalah sebanyak 77 orang kader posyandu. Tehnik pengambilan sampel dengan cara simple random sampling.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tanggal 22 Agustus sampai dengan 30 Agustus 2013 di  dapatkan bahwa mayoritas responden tidak aktif, yaitu 41 responden (53,2%). Hasil uji bivariat didapatkan umur (P value = 0,001), lama menjadi kader (P value = 0,000), dan pengetahuan (P value = 0,033) berhubungan secara bermakna dengan keaktifan kader, sedangkan variabel pendidikan  ( P value  = 0,945), tidak ada hubungan dengan keaktifan kader.

Diharapkan bagi instansi terkait agar dapat memberikan pelatihan-pelatihan dan reward untuk meningkatkan motivasi kader, sehingga keaktifan kader posyandu akan lebih meningkat.

 

Kata Kunci       : Keaktifan kader, umur, pendidikan, lama mejadi kader dan pengetahuan.

Daftar Pustaka :  29 buku (2000 – 2013) + 11 online/internet

*(Mahasiswi Akper Jege Sigli/ Pembimbing)

Faktor-faktor Yang Berhubungan dengan Status Imunisasi Dasar Balita Di Desa Grong-grong Capa Kec.Ulim, Pidie Jaya

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Imunisasi Dasar  Di Desa Grong-Grong Capa

Kecamatan Ulim Kabupaten Pidie Jaya  Tahun 2013

(Zahratul Aini/Mirzal Tawi)* 

 

xvi  +  59 halaman  +  14 daftar tabel + 7 lampiran

ABSTRAK

 

Imunisasi merupakan upaya efektif untuk menurunkan angka kematian anak yang merupakan salah satu tujuan dari Millenium Development Goals (MDGs). Kegiatan imunisasi merupakan salah satu kegiatan prioritas Kementrian Kesehatan sebagai salah satu bentuk nyata komitmen pemerintah untuk mencapai MDGs khususnya menurunkan angka kematian pada anak. Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada balita dan anak dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Imunisasi dasar meliputi BCG, DPT, Campak, dan Polio Adapun tujuan  penelitian ini, yaitu diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan status imunisasi dasar di Desa Grong-Grong Capa Kecamatan Ulim Kabupaten Pidie Jaya Tahun 2013 berdasarkan umur, pendidikan, sumber informasi dan pengetahuan. Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional. Tehnik pengambilan sampel dengan Total populasi dengan jumlah sampel 35 responden. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di dapatkan  hasil penelitian adanya hubungan yang bermakna antara variabel sumber informasi (P value = 0,009; OR :17,1) dan pengetahuan (P value  = 0,000; OR = 26 ) dengan status imunisasi , sedangkan yang tidak ada hubungan yang bermakna dengan status imunisasi adalah  variabel umur ( P value = 0,800) dan pendidikan ( P value = 1,000 ). Diharapkan agar dapat di tingkatkan penyuluhan kesehatan kepada ibu-ibu tentang pentingnya imunisasi dasar pada bayi, baik melalui petugas kesehatan turun langsung ke lapangan para, melalui media elektronik dan media massa dan dapat juga melibatkan para alim ulama.

 

Kata kunci                  : Status Imunisasi, Umur, Pendidikan, Sumber Informasi, Pengetahuan

Daftar Pustaka                        : 29 buku (2000-2013) + 10 online/internet

* (Mahasiswi Akper Jege Sigli/Pembimbing)

Hanya Segelas Madu

Ketika Khalifah Umar Ibn Khattab menderita suatu penyakit, maka disarankan kepadanya untuk minum segelas madu. Kebetulan di Baitul Maal ada segelas kecil madu. Maka beliau keluar dari rumahnya sambil memakai tongkat sampai diatas mimbar. Ia berkata:'” Jika kalian memberi ijin kepadaku untuk meminta segelas madu dari Baitul Maal, maka aku akan meminumnya. Kalau tidak, maka madu itu haram buatku.” Maka para sahabat dengan senang hati memberinya izin.

Makan Bersama Dengan Umar Ibn Khattab R.A

Ketika Khalifah Umar tiba di kota Mekkah untuk melakukan ibadah haji maka Sofwan Ibnu Umaiyah menyuguhkan hidangan khusus dalam sebuah baki besar yang diangkat oleh empat orang pelayan yang kuat. Setelah mereka meletakkan baki hidangan itu, maka para pelayan menjauhkan diri mereka, sehingga Umar berkata dengan keheranan, ” Mengapa kalian tidak menyuruh para pelayan kalian makan bersama dengan kalian, apakah kalian tidak senang dengan mereka?”.” Tidak demikian, wahai Amirul Mukminin, akan tetapi, kami lebih mengutamakan diri kami dari mereka,” jawab Sofwan .

Mendengar ucapan Sofwan, maka Umar sangat marah dan ia berkata, “Tidaklah suatu kaum yang lebih mementingkan diri mereka atas para pelayannya, melainkan Allah SWT akan menghinakan mereka!”. Kemudian Umar berkata kepada para pelayan, ” Duduklah kalian disini dan marilah kita makan bersama.”  Maka para pelayan itu duduk dan makan bersama dengan Khalifah Umar Ibn Khattab.

Umar R.A Bersikap Keras, Tetapi Ramah

Ada sekelompok orang Islam duduk di sisi Abdurrahman Ibnu ‘Auf. Mereka berkata, ” Bicaralah engkau kepada Umar Ibnu Khattab bahwa ia terlalu menakut-nakuti kepada kita sampai kami tidak dapat memandang dirinya.’  Maka Abdurrahman Ibnu “Auf meninggalkan masjid dan pergi ke tempat Umar untuk menyampaikan ucapan kawan-kawannya. ” Benarkah mereka berkata demikian? Demi Allah, aku telah bersikap ramah kepada mereka, sampai aku merasa takut kepada Allah karenanya, dan aku telah bersikap keras kepada mereka, sampai aku merasa takut kepada Allah karenanya, lalu harus bagaimanakah aku?” jawab Umar dengan nada marah.

Kemudian Umar meneteskan air mata dan kedua bibirnya gemetar sampai terdengar suara tangisnya, kemudian ia pergi seraya menyeret kain selendangnya. Maka Abdurrahman berkata, “sungguh celaka mereka sepeninggalmu.”