Archives

Local Wisdom Yang Hampir Punah……Keube Weung (Kerbau Putar)

10346644_10201502948489237_159496503984239197_nIni salah satu proses pembuatan manisan tebu manual-tradisional menggunakan tenaga kerbau, di kawasan Pidie, khususnya di Desa Beureu eh, Beureunuen. Proses home-industry ini terbilang sudah sangat langka di temukan, Tradisi Aceh ini bisa dikatakan sudah hampir punah, karena orang sudah memilih menggunakan mesin penggiling tebu modern. Alasan sebagian besar petani tebu, harga kerbau yang mahal, dan untuk melatihnya cukup menguras waktu, dana dan tenaga, dimana kerbau harus di isolasi dalam kandang selama 2 minggu untuk dilatih. Manisan tebu dari pengolahan tersebuh kemudian dijual di pasar dengan harga, 300-350rb (saboh the`m/1 kaleng:red) per-kaleng 30x18cm. Mungkin 1 dekade lagi, tradisi ini mungkin sudah tidak ditemukan lagi. Semoga Tidak.

Advertisements

Sekilas tentang Rangkang

“Sejak berdirinya kerajaan Peurelak di Aceh, penyelenggaraan pendidikan di Aceh berorientasi pada ajaran agama Islam. Pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT dan rasulNya, akhlak mulia, beridisiplin tinggi, bijaksana, dapat berdiri sendiri, bertanggung jawab, cerdas dan trampil, sehat jasmani, dan rohani, aktif dan kreatif, cermat dan teliti, sabar serta menyerah diri pada ketetapan Allah SWT. Begitulah tujuan pendidikan yang harus dicapai oleh perserta didik menuju ajaran Islam.” (AR Rum 51). p. 48. Continue reading

Aspek Sosial Budaya Masyarakat ACEH

Aceh sebagai sebuah entitas etnis dan wilayah tertentu sangat berbeda dengan etnis atau wilayah lainnya di Indonesia. Masyarakat Aceh adalah masyarakat yang pluralistis dan ?terbuka?. Di daerah Nanggroe Darussalam ini terdapat 8 sub etnis, yaitu Aceh, Alas, Aneuk Jamee, Gayo, Kluet, Simeulu, Singkil, dan Tamiang. Kedelapan subetnis tersebut mempunyai sejarah asal-usul dan budaya yang sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Misalnya, menurut sejarahnya, sub etnis Aneuk Jamee merupakan pendatang yang berasal dari Sumatera Barat (etnis Minangkabau) sehingga budaya subetnis Aneuk Jamee mempunyai kemiripan dengan budaya etnis Minangkabau.

Continue reading

Seudati…The Atjeh Heroik Dance

Tarian Seudati adalah sebuah tarian tradisional aceh yang sangat heroik. Tarian ini dimainkan oleh 8 orang yang disebut rakan dan 2 orang yang menyanyikan syair-syair yang dinamakan aneuk seudati atau aneuk syahi. Dari 8 orang rakan/penari ada yang disebut dengan Syeh dan Apet syeh. Syeh berdiri di posisi kedua dari kiri barisan depan berdasarkan penglihatan penonton dari depan. Beberapa pakar mengatakan Seudati berasal dari kata Syahadatain, dan ada juga yang mengatakan berasal dari kata sahadati(bhs Arab). Dalam tarian Seudati ini hanya mengandalkan tubuh penari sebagai instrumennya,  seperti perut dipukul/peh prut, jari tangan dibunyikan/ ketip jaroe, tepuk tangan,dan dengan suara yang melengking.    Continue reading

Geudeu geudeu

Geudeu geudeu adalah salah satu seni bela diri tradisional rakyat Pidie. Seni beladiri ini seperti gulat yang dimainkan oleh kaum laki-laki. Satu team terdiri dari 3 orang. Biasanya geudeu geudeu ini dipertandingkan antar kampung, diadakan setiap habis panen padi .

Ranup Lampuan

AK Abdullah, perwira muda militer yang bertugas di bidang Rohdam menceritakan pengalamannya selama bertugas diluar Aceh. Ia sering melihat tarian sirih dalam acara-acara resmi sebagai tanda penghormatan kepada tamu yang datang.

Sedangkan waktu itu adat makan sirih di masyarakat provinsi dimana beliau bertugas tidaklah begitu menonjol seperti di daerah Aceh. Mendengar cerita itu, maka mencari tahu melalui para tetua adat dan menciptakan tari Ranup Lampuan. Setelah proses penciptaan tari selesai, Yuslizar mengundang para tokoh masyarakat, dimaksudkan agar memdapat masukan terhadap tari yang baru ia cipta. Continue reading